You're at: Home home | contact us | sitemap
Main Menu

Hit Counter
79320 Visitors

AULIN Mengatasi Nyeri Mulai 15 Menit   E-mail 

Obat analgesik antipiretik serta obat anti-inflamasi nonsteroid merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia.  Sehingga obat-obat AINS (NSAID) dapat digolongkan berdasarkan struktur kimianya.  Berdasarkan penelitian efek terapi dan efek samping obat NSAID lebih dipengaruhi oleh penghambatan biosinthesis prostaglandin (PG).

Prostaglandin adalah zat yang dilepaskan ketika sel mengalami kerusakan, atau disebut mediator inflamasi. Prostaglandin ini diinduksi oleh enzim siklo oksigenase (COX).  Sehingga efektifitas dan tolerabilitas suatu obat sebagai analgesik, anti piretik dan anti inflamasi akan dipengaruhi oleh cara penghambatan enzim COX, (Ganiswarna S.G, 1995).

Mediator inflamasi tidak hanya PG saja, berdasarkan Rabaseda 1997 mengatakan bahwa inflamasi melibatkan multimediator (multifaktorial), misalnya bradikinin, leukotrin, cytokin, interleukin, histamin serta radikal bebas.  Efektifitas NSAID sebagai analgesik, anti piretik ataupun anti inflamasi akan dipengaruhi juga oleh spectrum penghambatan pada mediator inflamasi.

Mediator inflamasi

Proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang, dengan gejala kalor, rubor, tumor, dolor dan functiolasea.  Mediator yang depaskan antara lain histamin, bradikinin, leukotrin, PG dan PAF.

Rasa nyeri dipengaruhi oleh PG yang akan menyebabkan keadan hiperalgesia kemudian bradikinin dan histamin akan merangsang dan menimbulkan nyeri yang nyata.

Demam (peningkatan suhu) diawali pelepasan zat pirogen endogen atau sitokin (IL-1 dan IL-8) yang akan memacu pelepasan PG di hypothalamus (letak alat pengatur suhu tubuh).

NSAID ideal yaitu yang cepat dan kuat sebagai obat analgesik, anti inflamasi dan anti piretik adalah obat yang harus menghambat semua mediator inflamasi atau bekerja secara multifaktorial atau multimediator (Rabaseda, 1997)

Enzim COX

Enzim COX mempunyai bentuk isoform yaitu COX-1 dan COX-2, dimana masing-masing mempunyai efek yang berbeda. 

Enzim COX-1 bersifat konstitutife yang berfungsi fisiologis terutama menginduksi PGI2 (prostasiklin) untuk membentuk mucosa be-layer gaster sehingga berefek perlindungan terhadap gaster (lambung).  Selain itu COX-1 juga berfungi untuk pembentukan TXA2? pada fungsi platelets serta PGE2 untuk pembentukan sel ginjal (Vane and Botting, 2001).

Enzim COX-2 lebih bersifat inducible yang akan merangsang terjadinya proses inflamasi.  Kondisi normal COX-2 dalam sel tubuh ada dalam jumlah sedikit (Vane, 1971) yang berfungsi fisiologis salah satunya pada pembentukan PGI2 untuk vasokontriksi pada system cardiovascular. 

NSAID yang ideal seharusnya bekerja selektif terhadap COX-2 yang akan menghambat PG inflamasi, minimal menghambat COX-1 agar tetap melindungi lambung (tidak iritatif), ginjal dan tidak memperpanjang waktu pendarahan serta tidak tetap melindungi COX-2 fisiologis sehingga aman terhadap cardiovaskuler.

AULIN (Nimesulide original)

Aulin adalah NSAID yang telah ditetapkan oleh European Medicines Evaluation Agency (EMEA) Badan Pengawasan Obat dan Makanan Eropa pada Juli 2003 sebagai obat yang aman dan efektif pada berbagai kondisi nyeri inflamasi.

Struktur Kimia

Struktur kimia NimesulideGambar 1. Struktur kimia Aulin (nimesulide) adalah 4-nitro-2-phenoxymethanesulfonanilide

Aulin termasuk golongan Sulphonanilid, dimana mempunyai PH sebesar 6,5 sehingga tidak bersifat irritatif terhadap mukosa gaster, yang sangat berbeda dengan golongan lain (Goodman and Gilman, 1996) seperti  derifat asam fenilasetat (diklofenac) dan derifat asam fenamat (Asam mefenamat) yang mempunyai PH 3 - 4,5 yang bersifat irritatif terhadap mukosa lambung.

Pharmacodynamic

Aulin efektif sebagai analgesik, anti inflamasi dan antipyretic karena bekerja secara mulitifaktorial (Bennet and Villa, 2000), dimana penghambatan tidak hanya PG COX-2 saja akan tetapi mediator inflamasi yang lainnya seperti leukotrin, cytokin, bradikinin, histamin, radikal bebas, dan elastase juga di hambat ( Bennet, 2001). 

Aulin menjamin keamanan pada lambung, ginjal, jantung dan tidak memperpanjang waktu pendarahan karena aulin selektif preferential COX-2 (Warner et al, 1999).  Penghambatan pada enzim COX-2 bersifat selektif pada COX-2 yang patologis (penyebab inflamasi) sedangkan COX-2 yang fisiologis tidak dihambat, terutama prostasiklin pada system cardiovaskuler, sehingga fungsi sebagai vasodilator dan anti agregat tidak terganggu. Penghambatan pada enzim COX-1 sangat minimal sehingga tidak menghambat COX-1 yang berfungsi fisiologis terutama prostasiklin untuk pembentukan mukosa lambung, prostaglandin untuk pembentukan sel ginjal dan tromboxan untuk fungsi pembekuan darah tidak terganggu. 

Indikasi Aulin

  • 1.Acut Pain
  • 2.Dental Pain
  • 3.Pre and Post Operative Pain
  • 4.Dysmenorrhea
  • 5.Pelvic Inflamatory Disease
  • 6.Low-Back Pain
  • 7.Osteoarthritis
  • 8.ENT Inflamation
  • 9.Cancer Pain
  • 10.Trauma
  • 11.Headache

Efektifitas Aulin pada kasus gigi

  • 1.Aulin lebih cepat mengatasi nyeri mulai 15 menit
  • 2.Aulin efektif mengatasi nyeri akut, odema, trismus, kemerahan dan kesulitan mengunyah pada sakit gigi
  • 3.Aulin lebih cepat dan efektif dalam mengatasi gejala nyeri inflamasi pada pasca operasi
  • 4.Aulin praktis tanpa kombinasi

Bukti Klinis

  • Aulin lebih cepat mengatasi nyeri mulai 15 menit

Aulin mempunyai onset of action 15 menit, dan lebih cepat dibandingkan dengan Celecoxib dan Rofecoxib.  Aulin signifikan lebih efektif dalam mengatasi gejala inflamasi dibandingkan dengan Celecoxib, Rofecoxib ( Bianchi and Broggini, 2003).

  • Aulin efektif mengatasi nyeri akut, odema, trismus, kemerahan dan kesulitan mengunyah pada sakit gigi

Aulin efektif dalam mengatasi gejala inflamasi seperti nyeri akut, odema, trismus, kemerahan dan kesulitan mengunyah pada 78 pasien dengan kasus alveolar – gingival, paradontal abcesses, sequele dari dental ekstraction, suppurating radical cysts, dysodontiasis, osteitis, peridontitis dan periosteis (Solimei et al, 1988).

  • Aulin lebih cepat dan efektif dalam mengatasi gejala nyeri inflamasi pada pasca operasi

Aulin mempunyai efektifitas dalam mengatasi nyeri inflamasi yang lebih excellent dibandingkan dengan diklofenak dan flurbiprofen pada 150 pasien untuk pasca operasi (Amodeo, 1993).

Bukti penelitian ini juga didukung oleh hasil Clinical Trial dari FKG Universitas Indonesia.  Aulin dibandingkan dengan diklofenac dan parasetamol mempunyai efektifitas dan tolerabilitas yang lebih excellent (Teguh dkk, 2001).

Perbandingan dengan NSAID yang lainnya Aulin juga menunjukkan efektifitas dan tolerabilitas yang lebih excellent, misalnya dibandingkan dengan asam mefenamat pada pasien setelah pasca operasi (Ragot et al, 1994).  Selain itu Clinical Trial juga di lakukan di FKG Universitas Airlangga oleh Roberto Simanjuntak pada tahun 2001 Aulin lebih efektif dibandingkan dengan asam mefenamat dalam mengurangi intensitas nyeri dengan duration of action yang lebih panjang.

Selain sebagai analgesik dan anti inflamasi juga mempunyai aktifitas sebagai anti piretik, Aulin 3 X lebih cepat menurunkan panas (demam) dibandingkan dengan parasetamol (Ruiz, 1993).

Berdasarkan bukti klinis di atas Aulin adalah preparat NSAID yang cepat efektik sebagi analgesik, anti piretik dan anti inflamasi sehingga dalam peresepan tidak membutuhkan kombinasi dengan NSAID yang lainnya.


Tolerabilitas

  • Aulin aman pada lambung, hepar dan jantung

Aulin sangat aman pada lambung dengan tingkat aktifitas ulcerogenik kurang dari 5 %, sedangkan diklofenak dan asam mefenamat mencapai 44,2% dan 8,5% (Wuard, 1988).  Data from Drug Fact and Camparasions –Ohio, USA menunjukkan efek samping pada gastrointestinal Aulin sangat minimal kurang dari 5% sedangkan diklofenak mencapai 35%.

Efek samping Aulin pada hepar sama dengan NSAID yang lainnya, bahkan berdasarkan studi Cohort menunjukkan efek samping yang lebih rendah dibandingkan dengan NSAID yang lainnya (Traversa et al, 2003).

Aulin menjamin keamanan pada jantung, karena bekerja secara selektif preferential COX-2 (Solomon, 2003)                                                             

Data Post Marketing Surveillance Helsinn pada Juni 2003, menunjukkan tingkat kejadian efek samping hanya sebesar 1 per satu juta pasien yang meliputi efek samping skin, disgestive dan metabolic.

  • Aulin preparat original berbeda dengan preparat me-too (Brand name ikutan)

Aulin diimport langsung dari Helsinn dengan Good Manufacturing Proccess sehingg kualitas produk yang terjamin.  Nimesulide adalah zat yang sangat sukar larut dalam air, sehingga dibutuhkan teknologi yang khusus agar mudah larut dan lebih cepat di absorbsi.  Aulin dibandingkan dengan preparat me – too, mempunyai dissolusi dan dissentregasi 2,5 kali lebih cepat (Hutt et al, 2001 dan Butler et al, 2000) sehingga efektifitasnya lebih baik.

Posologi

Aulin berbentuk tablet putih dalam kemasan blister 10 tablet, bersisi nimesulide original 100 mg.

Dosis pemakaian dewasa dan anak-anak 12 tahun ke atas : 2 x 100 mg

Indikasi Aulin : Nyeri akut dan pasien yang mengalami oedema, trismus dan kesulitan mengunyah.

Kontra Indikasi Aulin : hipersensitif pada Nimesulide, wanita hamil dan menysui, kombinasi dengan asam clavulanat, gangguan hepar, jantung dan ginjal yang berat serta anak-anak di bawah 12 tahun.

Tinjauan Pustaka

Amodeo, 1993. Double Blind Study on the efficacy and tolerability of nimesulide compared with flurbiprofen and diklofenac

Bennet and villa, 2000. Expert Opinion on Pharmacotherapy. Expert Pharmacother. 1(2): 277-286

Benet, 1999. Overview of Nimesulide. Rheumatology 1999;38 (suppl.1):1-3

Bianchi and broggini, 2003. A Randomised, Double-blind, Clinical Trial comparing the Efficacy of Nimesulide, Celecoxib and Rofecoxib in Ostheoarthritis of the Knee. Drugs 63 Suppl. 1:37-46

Butler et al, 2000. comparative in Vitro Evaluation of Nimesulide – Containing preparations on the Italian Market. Boll. Chim. Farmac. Vol. 139-n06, hal. 237-241

Ganiswara, S.G, 1995. Farmakologi dan Terapi. Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran – Universitas Indonesia Jakarta. Hal. 207-210

Goodman and Gilman’s, 2001. The Pharmacological Basis of therapeutics. Hal. 691

Hut et al, 2001. Comparative in Vitro Evaluation of Nimesulide – Containing Preparations on the Italian Market. Clinical. Drug. Invest 2001; 21 (5):361-369

Roberto dkk, 2001.  Comparative Study of Nimesulide and mefenamic Acid in Impacted third Molar Post-Odontectomy
Wuard

Rabaseda, 1997. Safety Profile of Nimesulide : Ten Years of Clinical Experience. Drugs of Today vo. 33, Suppl.1

Ragot et al, 1994. Acute activity of nimesulie in the treatment of pain after oral surgery-double blind, placebo and mefenamic acid controlled study. European Journal of Clinical research 1994; 5:39-50

Ruiz, C.A.V, 1993. Comparison of the analgesic and anti-inflamatory effects of nimesulide and acetaminophen. University Jeveriana, Colombia

Solimei et al, 1988. A Multicentre Clinical Assessment of the Therapeutic effects of Nimesulide  in dentistry.

Solomon et al, 2003. The Relationship between selective COX-2 inhibitor and Acute Myocardial Infarction. Abstract Presented at 67 Annual Meeting Colege of Rhematolpgy.

Traversa et al, 2003. Cohort Study of Hepatotoxicity Associated with Nimesuldien and Other Non- Steroidal Anti- Inflammatory Drugs. BMJ Vol. 327: 18-22

Teguh dkk, 2001. The Effect of NSAID to Inflamation Reaction after Odontectomy Surgery M-3 Inferior Impaction Class II

Vane and Botting, 2001. Therapeutic Roles of Selective COX-2 Inhibitors.United Kingdom .London

Warner et al. 1999. Non Steroidal Drug Selectivities for Cyclo-Oxygenase –1 Rather than Cyclo-Oxygenase-2 are Assosiated with Human Gastrointestinal toxicity: A Full in Vitro Analysis. Proc. Natl. sci. USA Vol. 96, pp. 7563-7568



Galapharma © 2000 - 2004 All rights reserved
Designed and maintained by openESC.com | Powered by MOS